Untuk mewujudkan cita-cita banyak cara yang bisa ditempuh. Akan tetapi alternatif cara yang sudah dipilih haruslah dijalankan dengan konsisten dan sungguh-sungguh. Niscaya cita-cita akan terwujud. Seperti yang dilakukan di Koperasi Tani Al Barokah Dusun Wonokerto Desa Warugunung Kecamatan Pacet Mojokerto, yakni menyediakan pupuk dan obat-obatan pertanian bagi anggotanya dan juga melakukan jasa simpan-pinjam. Lebih dari itu, koperasi ini menyewa sebidang lahan pertanian yang digarap secara bersama-sama. Semuanya dilakukan untuk mempermudah akses pemenuhan kebutuhan bagi anggotanya yang sebagai besar petani.

Unit Simpan Pinjam

Koperasi Al Barokah yang pernah membagi SHU ini, memulai unit usaha simpan pinjam sejak September tahun 2007 lalu. Modal yang digunakan adalah simpanan anggota baik berupa simpanan wajib dan pokok serta simpanan sukarela. Jumlah modal pertama untuk unit simpan pinjam bisa dibilang sangat sedikit, hanya sekitar satu juta rupiah. Meski demikian, para anggota sudah memaklumi, bahwa memulai sebuah pekerjaan apapun memang harus dimulai dari bawah. “Meski modal usaha itu sangat sedikit, yang penting berasal dari anggota sendiri dan diatur secara bersama-sama.” ujar Ismail, penanggung jawab unit simpan pinjam koperasi tani itu.

Sebelum memulai unit usaha ini, terlebih dulu diadakan pembahasan serius tentang segala aturan atau management yang akan dijalankan. Peminjam harus mempunyai tabungan sukarela, nominal pinjaman dibatasi 10 kali lipat dari jumlah tabungan sukarela yang ada. Peminjaman dilakukan tidak atas nama pribadi anggota, akan tetapi atas nama kelompok kecil. Kelompok kecil ini terdiri dari 3 (tiga) orang anggota koperasi. Kelompok kecil ini tidak diperbolehkan melakukan peminjaman kedua dan seterusnya bila peminjaman sebelumnya belum dilunasi. Batas waktu pelunasan peminjaman adalah empat bulan. Jangka waktu ini dibuat didasarkan pada satu kali masa tanam pertanian yang berkisar 3 sampai empat bulan. Setiap peminjaman dikenakan pajak 5 persen dari jumlah nominal yang dipinjam.

Kesepakatan lainnya adalah tentang sanksi. Bila ada peminjam yang nunggak sampai batas waktu yang ditentukan yakni empat bulan, maka akan dikenakan denda 10 persen dari jumlah sisa pinjaman yang belum dilunasi. Selain itu kelompok ini tidak diperbolehkan melakukan transaksi peminjaman selama satu tahun terhitung sejak pelunasan yang melebihi aturan jangka waktu yang ada.

Dari proses selama enam bulan ini, terkadang masih saja ada aturan yang belum maksimal dijalankan. Latar belakang management ini adalah agar peminjam tidak lupa diri, selalu akan ada yang mengingatkan, yakni anggota kelompok kecil yang lain, sebab jika pinjaman tidak segera dilunasi, anggota yang lain dalam kelompok kecil itu tidak mempunyai hak untuk melakukan peminjaman sebelum kawan anggota yang terlebih dulu punya pinjaman belum melunasinya. Dengan sistem tersebut maka bukan hanya penanggung jawab unit usaha simpan saja yang akan memberi peringatan kepada anggota yang mempunyai pinjaman, akan tetapi anggota yang lain juga akan selalu mengkontrol agar peminjaman jangan sampai nunggak.

Tentang modal untuk program simpan pinjam saat ini sudah bertambah dengan adanya bantuan pinjaman modal dari koperasi Mandiri Jombang. “Memang pinjaman modal itu tidak banyak, hanya 3,5 juta, tetapi kami tidak melihat besar kecilnya modal tersebut, akan tetapi kepedulian Koperasi Mandiri akan keberlangsungan koperasi Al Barokah yang begitu besar. Pinjaman modal itu juga kami jadikan praktek seberapa sukses kami menjalankan management yang sudah kami sepakati bersama.” ujar Ismail yang kesehariannya berprofesi sebagai petani juga pedagang kecil ini.

Untuk menjamin keberlangsungan unit usaha simpan pinjam tersebut Koperasi Al Barokah menyepakati bahwa penanggung jawab sekaligus pengelola unit ini ada dua orang, yakni Abdul Aziz dan Ismail. Kedua orang ini mempunyai kewajiban mengendalikan management unit usaha simpan pinjam, juga berkewajiban membuat laporan bulanan yang akan dilaporkan kepada anggota setiap pertemuan rutin bulanan.

Unit Usaha Paroan Sawah

Selain unit usaha simpan pinjam dan unit usaha waserda pertanian, koperasi ini juga melakukan usaha pertanian. Secara teknis, atas nama koperasi menyewa sebidang sawah. Kemudian secara gotong royong setiap anggota diwajibkan untuk ikut menggarap sawah tersebut. Kebutuhan garap sawah, yakni mencangkul dan membajak, dikerjakan secara bersama-sama, setiap anggota harus meluangkan waktu sehari kerja untuk mencangkul di sawah tersebut.

Sedangkan kebutuhan garap yang lain, seperti menanam, memupuk serta membersihkan gulma (matun) dikerjakan oleh buruh tani dan koperasi membayar mereka. Sementara untuk kebutuhan pupuk serta obat-obat pertanian, sudah dipenuhi oleh unit usaha waserda.

Sistem sewa sebidang sawah tersebut adalah dengan cara paroan. Adapun teknis pembagiannya adalah pihak pemilik tanah hanya menyediakan lahan, sementara pihak koperasi menggarap dan menanggung semua biaya produksi. Setelah panen, hasilnya akan dipotong 20% dan diberikan kepada koperasi, sisanya (80%) dibagi menjadi dua, satu bagian untuk pihak koperasi, satu bagian lagi adalah hak pemilik lahan. Selain itu, khusus untuk biaya benih dan pupuk serta obat-obatan, ditanggung kedua belah pihak.

“Semoga saja dengan program (maro sawah) semacam ini modal koperasi akan cepat berkembang, sebab,

berdasar analisa usaha yang dilakukan bersama-sama, jelas program ini akan mengunggulkan.” ujar Saiful, Ketua Koperasi AL Barokah.