Cuma iseng…
Ini cerpen yang aku buat saat SMA…
Klo dibaca lagi suka bikin aku tersenyum… hehehe…
Maaf klo masih kurang baik…🙂

Hari itu aku tiba di rumah baruku, rumah yang terletak di komplek Perumahan Pesona Kahyangan Depok Blok F No. 16. Sebenarnya itu bukanlah rumah yang baru dibeli ayahku, melainkan rumah Pak Darwo, ayah dari ayahku, atau tepatnya kakekku. Kakek telah meninggal dua minggu sebelum aku pindah rumah, karena terkena serangan jantung, sedangkan nenek telah meninggal setahun sebelumnya karena menderita stroke. Sebelum meninggal kakek berpesan kepada ayah agar menempati dan merawat rumah ini serta mewarisi seluruh harta kekayaan kakek jika kakek meninggal nanti, maklumlah ayah adalah anak semata wayang Pak Darwo.
Oh ya, ayahku bernama Darmawan dan ibuku bernama Marini. Aku mempunyai dua orang kakak perempuan, yang pertama bernama Santy, dan yang kedua bernama Ani. Aku sendiri bernama Rantono atau biasa dipanggil dengan Tono.
Setelah membenahi semua barang-barang yang kami bawa, kami sekeluarga berkunjung ke beberapa rumah tetangga terdekat untuk memperkenalkan diri. Ternyata tetangga di komplek perumahan ini ramah juga ya ! Tetapi ada seorang anak perempuan seusiaku, 15 tahun, yang rumahnya bernomor 21, tepat berada di depan rumahku, ia terlihat sangat memusuhiku. Entah kenapa…. Padahal ayah ibunya sangat baik dengan keluargaku. Dan aku sendiri belum kenal dengan dia sebelumnya. Bahkan aku tidak tahu siapa namanya.
Setiap kali aku berpapasan dengannya, dia selalu memalingkan wajahnya, dan memasang wajah yang sangat judes. “Ih, sombong amat nih cewek.” dalam hati aku bergumam. Bahkan saat aku memberikan senyuman atau menegurnya, dia pura-pura tidak melihat dan tidak mendengar, terus berlagak cuek lagi. “Gondok banget gue ngeliatnya, kayak cewek paling cakep sedunia aja. Kalau cowok, gue tonjok lu !” sekali lagi aku berseru dalam hati. Padahal seingatku, kakek pernah berkata kalau tetangga yang tinggal di depan rumahnya, memiliki seorang anak perempuan seusia denganku. Kata kakek anak itu sangat manis, baik hati, dan tidak sombong. Bahkan anak itu sering sekali ke rumah kakek untuk berkunjung atau sekedar mampir, atau membawa makanan kecil untuk kakek. Tapi pada kenyataannya, anak yang dikatakan kakek tidak ada. Tetangga di depan rumah hanya mempunyai satu orang anak perempuan yang judes, sombong, sok cakep, dan… pokoknya yang jelek-jelek deh. Tapi memang sih anak itu lumayan manis. Kakek suka sekali dengan anak itu. Kakek ingin mengenalkannya padaku. Tapi sayang sekali, sebelum sempat mengenalkannya padaku kakek sudah lebih dulu meninggal.
Suatu hari anak perempuan sombong itu menghampiriku saat aku baru pulang dari sekolah. “Hei, anak nyebelin !” tegurnya dengan kasar. “Siapa ? Gue ?” tanyaku padanya. “Iya, Elo, emang siapa lagi ?” jawabnya ketus.
“Apa maksud Lo ngatain gue nyabelin ?” tanyaku.
“Ah, jangan berlagak nggak ngerti deh Lo !”
“Maksudnya apa ?” tanyaku heran.
“Eh, dengerin ya ! Gue nggak suka sama cara Lo yang norak kayak gitu.” hardiknya, lalu ia bergegas pergi dan kembali ke rumahnya.
“Hei, tunggu ! Emang gue salah apa sama Elo ?” tanyaku, namun dia tak menjawab, dia masuk ke rumah dan membanting pintu rumahnya.
Aku sama sekali nggak ngerti, kenapa dia berkata seperti itu, sepertinya aku telah melakukan sesuatu yang membuatnya sangat kesal. Tapi apa ? Sepertinya aku tidak melakukan apa-apa. Aku kan baru kenal dia, kenapa dia begitu kesal denganku ? Cara yang norak, dia bilang cara yang norak, tapi aku nggak tahu apa maksudnya. Sampai rumah, aku terus memikirkan kata-katanya. “Gue nggak ngerti ngomong apa sih tuh cewek ?” tanyaku dalam hati.
Seminggu telah berlalu sejak cewek nyebelin itu menghardikku. Keadaannya tidak jauh berbeda, anak itu tetap judes dan membenciku tanpa alasan yang jelas. Bahkan sepertinya kebenciannya semakin besar kepadaku. Mulanya aku sih nggak ambil pusing, tapi siang itu dia kembali menghampiriku.
“Hei, Elo ! Elo tuh nyebelin banget ya, apa sih mau Lo ? Lo mau kenalan sama gue ? Kalau Elo mau kenalan, kenalan aja, jangan begitu dong caranya !” tegurnya.
“Tunggu, gue benar-benar nggak ngerti apa maksud Lo ?” tanyaku
“Nggak ngerti, Lo sekarang masih pura-pura nggak ngerti ?”
“Bukan, bukan pura-pura nggak ngerti, tapi gue emang benar-benar nggak ngerti.” jelasku.
Anak perempuan itu bertanya, “Nama Elo Tono kan ? Lo baru pindah dari Tanjung Barat kan ?” “Iya benar nama gue Tono, gue baru pindah dari Tanjung Barat.” jawabku.
“Kalau begitu, apa maksud Lo ngirim surat-surat yang nyebelin itu ke gue ?”
“Surat, surat apa ? Gue nggak pernah ngirim apa-apa ke Elo.” tanyaku heran.
Sejenak anak perempuan itu terdiam, kemudian bertanya, “Benar Elo nggak ngirim surat ke gue ?” “Iya benar, gue nggak pernah ngirim surat ke Elo.” jawabku.
“Kalau gitu siapa dong yang ngirim surat itu ke gue ? Masa bukan Elo sih ?” tanyanya.
“Benar deh, berani sumpah, bukan gue yang ngirim surat ke elo.” tegasku.
“Soalnya begini Ton, pengirim surat itu namanya juga Tono.” jelasnya.
“Terus kenapa langsung gue yang dituduh, kan masih banyak orang yang bernama Tono.”

“Karena pengirim surat itu menyebutkan ciri-cirinya persis seperti Elo. Di dalam surat itu, pengirimnya ingin kenalan sama gue, Dia menyebutkan nama, umur, sekolah, pokoknya semuanya persis dengan ciri-ciri Elo. Dia juga bilang kalau Dia baru pindah dari Tanjung Barat dan sekarang tinggal tepat di depan rumah gue. Kalau gitu siapa lagi dong kalau bukan Elo ?”
“Tunggu, ini pasti kerjaan orang iseng. Gue boleh lihat nggak suratnya ? Kali aja gue tahu pengirim surat itu dari bentuk tulisannya.”
“Ya udah, kalau gitu ayo Elo ke rumah gue.” Ajak anak perempuan itu. “Oke”.
Kemudian kami berdua ke rumahnya. Lalu aku menunggu di teras rumahnya dan dia masuk ke dalam untuk mengambil surat-surat itu. Tidak lama kemudian dia keluar dengan membawa enam surat yang sudah lecak.
“Nih surat-suratnya. Tinggal surat-surat ini yang ada, yang lainnya udah gue buang nggak tahu kemana.”
“Memang ada berapa sih surat-surat itu semuanya ?” tanyaku.
“Nggak tahu deh, kayaknya sih ada sebelas surat.”
“Sebelas surat ?” “Iya, sebelas. Oh ya, tadi ada satu lagi surat yang dikirim ke gue. Surat itu aneh banget.”
“Aneh kenapa ?” tanyaku lagi. “Iya aneh, soalnya surat itu tiba-tiba saja sudah ada di kamar gue tanpa amplop. Padahal kan selama gue sekolah, pintu dan jendela kamar sudah gue tutup rapat-rapat terus gue kunci, jadi nggak mungkin ada orang yang masuk.” jelasnya.
“Kok bisa begitu, apa Elo sudah tanya sama ayah dan ibu Lo ?”
“Ayah dan ibu gue pergi dari tadi pagi, di rumah cuma ada pembantu gue. Dia sudah gue tanyain, sampai gue omel-omelin tapi Dia bilang bukan Dia yang menaruh surat itu.” jelasnya lagi.
Kemudian aku baca satu per satu surat-surat itu. Isinya persis seperti yang telah dikatakan oleh Nina, nama anak perempuan itu yang aku ketahui dari surat-surat yang aku baca.
“Nina, jadi nama Elo Nina ?” tanyaku. Nina balik bertanya, “Iya, jadi selama ini Elo belum tahu nama Gue ?”
Aku tidak menjawab pertanyaannya, aku terpaku pada surat-surat itu. Ada satu hal yang membuatku tidak percaya, tulisan di surat itu persis seperti tulisan tangan kakekku, Pak Darwo.
“Nina, surat yang pertama Elo terima yang ini kan ?” tanyaku sambil menunjukkan sebuah surat kepadanya. “Iya benar.” jawabnya.
“Kapan surat ini Elo terima ?” “Sekitar lima hari sebelum Elo pindah ke sini.”
“Terus yang mana surat terakhir yang baru aja Elo terima ?” “Yang ini.” jawab Nina sambil menunjukkan sebuah surat kepadaku.
Benar-benar membuatku tidak percaya, dari surat pertama hingga surat terakhir, semua tulisannya sama persis dengan tulisan kakekku. Dan isi suratnya itu sangatlah konyol seperi kelakuan kakek. Berikut adalah isi surat-surat yang telah kubaca tersebut,
Surat pertama yang diterima lima hari sebelum aku pindah :

“HAI NINA, KENALAN DONG. NAMA AKU TONO. AKU TINGGAL DI TANJUNG BARAT. AKU SEKOLAH DI SMUN 49 JAKARTA. USIAKU SAMA DENGANMU 15 TAHUN. KAMU SEKOLAH DI SMUN 3 DEPOK KAN.”

Surat kedua yang diterima tiga hari sebelum aku pindah :

“HAI NINA, KAMU CANTIK BANGET SIH, AKU JADI PENGEN KETEMU SAMA KAMU NIH. EH, NINA KAMU MAU KETEMU AKU NGGAK, AKU GANTENG LO. KALAU MAU KETEMU, TUNGGU AJA TIGA HARI LAGI KELUARGAKU AKAN PINDAH RUMAH KE PESONA KAHYANGAN, BLOK F NO. 16 DI RUMAH KOSONG DEPAN RUMAHMU ITU.”

Surat kelima, dua hari setelah aku pindah :

”DUH, KAMU JUDES AMAT SIH SAMA AKU, EMANG AKU SALAH APA SIH KE KAMU.”

Surat keenam, tiga hari setelah aku pindah rumah :

“KOK MARAH-MARAH TANPA SEBAB, AKU KAN NGGAK NGERTI APA-APA. EH KAMU KALAU MARAH TAMBAH CANTIK DEH, AKU JADI MAKIN SUKA SAMA
KAMU.”

Surat kesepuluh, delapan hari setelah pindah rumah :

“NINA YANG MANIS UDAH LAMA KITA KENAL TAPI KOK KAMU TERUS MEMBENCI AKU SIH, BAIKAN DONG !”

Surat kesebelas, surat yang baru diterima Nina :

“NINA SAYANG, KAYAKNYA SEBENTAR LAGI KITA BAKALAN AKRAB DEH. SOALNYA FEELINGKU MENGATAKAN KAMU RINDU SEKALI SAMA AKU DAN KAMU AKAN
MENEMUIKU.”

Itulah isi enam surat yang telah kubaca. “Isinya memang benar-benar menyebalkan, pantas saja Nina begitu membenciku.” dalam hati aku bergumam.
“Ton, bagaimana, Elo tahu siapa yang menulis surat itu ?” tanya Nina
“Ah, nggak… nggak tahu, tapi surat-surat ini benar-benar membuat gue jengkel.” elakku.
“Ya sudah nggak apa-apa, sebentar gue ke dalam dulu ya.” kata Nina, lalu masuk ke dalam rumahnya. Tidak lama kemudian, terdengar suara teriakan Nina dari dalam, “Aaaahh….”
Aku langsung masuk ke rumahnya dan menemukan dia sedang terkejut memandang ke arah sebuah surat yang berada di atas meja belajarnya yang bertuliskan :

AKHIRNYA KALIAN BERDUA AKUR JUGA, AKU JADI SENANG MELIHATNYA. MAAFKAN AKU YA KARENA TELAH MENGGANGGU KALIAN.

DARWO

Di atas surat itu terdapat pulpen Parker milik kakek yang telah hilang sejak tadi malam dan sedang dicari oleh ayahku. Bagaimana pulpen itu bisa ada di sini ? Dan siapa yang menulis surat itu ? Mungkinkah….