Ja’far adalah sepupu Nabi Muhammad SAW. Ia memiliki rupa dan perilaku seperti Rasulullah. Ia dikaruniai oleh Allah berupa hati yang tenang, akal fikiran yang cerdas, jiwa yang mampu membaca situasi dan kondisi, serta lidah yang fasih.

Sewaktu Rasulullah SAW memilih sahabat-sahabatnya yang akan hijrah ke Ethiopia, maka tanpa berfikir panjang Ja’far bersama istrinya tampil mengemukakan diri hingga tinggal di sana selama beberapa tahun. Hijrah kaum Muslimin ini, membuat kaum Quraisy tidak senang, bahkan menambah rasa dengki mereka. Oleh karena itu kaum Quraisy mengirim dua orang utusan terpilih yang bernama Abdullah bin Abi Rabi’ah dan Amar bin Ash (keduanya di waktu itu belum masuk Islam) untuk menghadap Raja Negus. Raja Negus adalah Raja Ethiopia yang mempunyai iman yang kuat. Ia menganut agama Nasrani secara murni dan padu, jauh dari penyelewengan dan lepas dari fanatik buta.

Di Ethiopia, dalam suatu pertemuan besar yang dihadiri oleh Raja Negus beserta para pendetanya dan juga kaum Muslimin, Abdullah bin Abi Rabi’ah dan Amar bin Ash menjelek-jelekan kaum Muslimin dan menyuruh Raja Negus untuk mengusir mereka dari Ethiopia. Namun karena kepandaian dan kemahiran berbicara dari Ja’far bin Abi Thalib, upaya dari dua orang Quraisy itu gagal. Bahkan Raja Negus  menegaskan bahwa siapa yang berani mencela dan menyakiti kaum Muslimin, maka orang itu akan mendapat hukuman yang setimpal dari perbuatannya.

Sewaktu pasukan-pasukan Muslimin ingin berperang menghadapi tentara Romawi, Ja’far tidak tinggal diam. Ia meminta kepada Rasulullah untuk ikut serta dalam peperangan tersebut. Ja’far memandang peperangan ini sebagai peluang yang sangat baik dan satu-satunya kesempatan seumur hidup untuk merebut salah satu di antara dua kemungkinan, yaitu:

–          membuktikan kejayaan besar bagi agama Allah dalam hidupnya, atau

–          Ia akan beruntung menemui syahid di jalan Allah.

Ja’far mengetahui benar bahwa peperangan ini bukanlah peperangan enteng, melainkan peperangan yang luar biasa, karena musuh yang dihadapinya adalah pasukan Kerajaan Romawi yang besar dan kuat yang dilengkapi alat persenjataan yang tak dapat ditandingi  oleh orang-orang Arab.

Pada suatu hari, kedua pasukan itu pun berhadapan muka, dan tak lama kemudian pecahlah perang yang hebat. Seharusnya Ja’far akan kecut dan gentar melihat bala tentara Romawi yang besarnya 200.000 orang prajurit itu, tetapi sebaliknya saat itu bangkitlah semangat juang yang tinggi pada dirinya, karena sadar akan kemuliaan seorang Mu’min sejati.

Sewaktu panji-panji pasukan hampir jatuh terlepas dari tangan kanan Zaid bin Haritsah, dengan cepatnya disambar oleh Ja’far dengan tangan kanannya pula. Dengan panji-panji di tangan, ia terus menyerbu ke tengah-tengah barisan musuh dengan mengayunkan pedangnya ke segala jurusan yang mengenai leher musuhnya laksana malaikat maut pencabut nyawa.

Saat kepungan pasukan Romawi semakin ketat hingga tak ada harapan untuk lepas, mereka menebas tangan kanan Ja’far hingga putus, tapi sebelum panji-panji itu jatuh ke tanah, cepat disambarnya dengan tangan kirinya. Lalu mereka tebas pula tangan kirinya, tapi Ja’far mengepit panji itu dengan kedua pangkal lengannya ke dada. Hingga di kala jasadnya yang suci telah kaku, panji pasukan masih berdiri di antara kedua pangkal lengan dengan dadanya.

Demikianlah Ja’far mempertaruhkan nyawa dalam menempuh suatu kematian agung yang tiada taranya untuk meghadap Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia.